shio to peppaa

Do not count your blessings; substract them.

Akhirnya Saya Ditilang di Tanah Air


Akhirnya… Setelah 10 bulan pulang ke tanah air, saya ditilang juga. Ini pertama kalinya saya ditilang di tanah air setelah sebelumnya pernah diminta damai saat di Garut, setelah menghadiri pernikahan Ade Setia Permana πŸ™‚ Berbeda dengan “Alhamdulillah saya ditilang di Jepang”, pengalaman kali ini lebih lucu, atau lebih tepatnya, getir. Tidak seperti di Tokyo yang langsung ditilang dan setelah itu dapat langsung mentransfer ke bank, kali ini banyak cerita yang saya pikir perlu dibagi untuk jadi masukan untuk kita bersama.

Kejadiannya tadi pagi tanggal 28 Januari 2014 sekira pukul 7 pagi. Saya berangkat dari rumah orang tua di daerah Dago menuju Padalarang melewati Simpang Dago (dari utara ke selatan Jalan Ir. H. Djuanda).Mengingat lalu-lintas yang ramai, seperti biasa persimpangan dijaga oleh Polantas dan mereka mengatur lalu-lintas; saat itu secara refleks saya mengikuti arahan seorang Polantas yang berdiri di lampu lalu-lintas sebelah utara dan menggoyang-goyangkan tangannya agar kendaraan terus maju meski lampu sudah merah, seperti mobil sebelumnya.Ternyata oh ternyata, kendaraan dari sebelah barat (Jalan Siliwangi) sudah berjalan, dan jadilah saya terjebak di tengah. Sialnya hanya mobil saya yang terjebak, dan seorang Polantas di lampu merah sebelah selatan menyetop saya karena melanggar lampu merah. Argumentasi saya bahwa saya mengikuti arahan dari polisi di sebelah utara tidak didengarkan, dan akhirnya seorang Polantas lain yang lebih senior kebagian tugas menilang saya.

Sekali lagi saya mencoba menjelaskan persoalannya, tetapi tidak digubris. Pada akhirnya buku tilang itu dikeluarkan dan “siap untuk ditulis”. Dalam prosesnya ternyata memang masih ada tawaran untuk bayar langsung ke polisi: jika dulu istilahnya “damai”, sekarang berubah menjadi “tilang di tempat” atau “menitipkan ke petugas”. Tentu saja daripada mengikuti proses pengadilan bulan depan saya pilih “tilang di tempat”.. Tapi saya minta resi/tanda terima. Nah lho.

Begitu mendengar permintaan seperti itu, jawaban yang diberikan pak polisi jadi tidak jelas, dan untuk mempersingkat waktu pada akhirnya saya memilih jalur resmi, bayar di pengadilan. Selesai? Tidak. Pak polisi masih mencari-cari di buku tilangnya, pasal apa yang patut diberikan ke saya. Haloo… Saya yang ikut membaca saja dari samping saja bisa melihat ada poin “melanggar rambu” di buku tilang tersebut. Setelah cukup sabar menunggu, saya “ajari” sang polisi, “Itu pak yang poin i, melanggar rambu. Pasal 287 ayat 1”. Tidak tahu pasal? Sengaja memperlambat? Hanya Tuhan yang tahu. Yang manapun itu, keduanya berdampak negatif dalam menciptakan citra Polisi yang profesional.

Yah, biar bagaimanapun, memang saya melanggar lampu merah. Mau lihat surat tilangnya? Ada di bawah. Ada juga foto polisinya yang sempat dijepret Selly Meliana, tapi hanya akan saya bagi secara tertutup, supaya tidak dijerat UU TIK πŸ˜‰ Secara keseluruhan pak polisinya sopan kok, bahkan sampai salaman dan dadah-dadahan segala. Yah saya doakan semoga tilangnya jadi ladang amal ya pak πŸ™‚

IMG-20140128-WA000

Sekarang tinggal menunggu tahap di pengadilan, tanggal 14 Februari. Banyak gosip yang saya dengar, tapi nanti saja ceritanya kalau sudah dijalani yak. Kelihatannya harus siap-siap bawa coklat untuk pak Hakim πŸ™‚

Moral of the story:1. Jangan melanggar rambu dalam kondisi apapun, kecuali jika sang polisi benar-benar meminta kita untuk melanggar, disaksikan oleh polisi yang lain/orang banyak. Hanya berselang setengah jam, di perempatan Padalarang keluar dari pintu tol kejadian yang sama hampir berulang. Lampu merah, dan polisi menggoyang-goyangkan tangan agar kendaraan terus melaju. Kali ini saya _tidak_ bergerak, tetap diam di depan lampu merah meski orang-orang mengklakson, hingga sang polisi mendatangi saya dan memerintahkan saya untuk maju. Bodo amat diklakson, daripada ditilang sehari dua kali? πŸ˜›

2. Tawaran “damai” masih dipraktikkan oleh Polantas. Ini PR besar untuk institusi kepolisian, mengingat Polantas adalah wajah polisi yang terlihat sehari-hari oleh masyarakat umum. Jika persoalan seringan ini diselesaikan dengan “damai”, bagaimana dengan persoalan yang berat?? Pantas saja jika masyarakat lebih mencari aman, pura-pura tidak melihat kejahatan, karena walau dilaporkan ke polisi pun, malah jadi merepotkan diri sendiri?? Sebetulnya masalah tilang ini dapat jadi mudah dan jujur jika mekanisme tilang dipermudah, polisi yang menilang dapat insentif setiap kali menilang. Dijamin, semua Polantas akan berusaha menilang sebanyak-banyaknya agar take home pay-nya naik πŸ™‚

3. Memperdalam pengetahuan UU Lalu-Lintas, baik untuk petugas polisi maupun kita sendiri. Polantas yang tidak tahu pasal pelanggaran lalu-lintas sama saja seperti sopir taksi yang tidak tahu jalan. Menyebalkan!

4. Jangan melanggar rambu dalam kondisi apapun. Lho, ini sih nomor satu yak πŸ˜€ Hehe, maksudnya jangan sirik meski banyak kendaraan lain *apalagi angkot* yang melanggar tapi tidak ditilang. Jika kita ikut-ikutan dan bernasib sial lalu distop polisi, tetap saja kita yang _salah_… *tertawa pahit

Iklan

4 comments on “Akhirnya Saya Ditilang di Tanah Air

  1. Vera Asta
    28 Januari 2014

    sekarang di bojonegoro juga lagi gencar-gencarnya operasi mbak, heu.. kalo aku sih males mbak kena tilangnya. males buang duitnya πŸ˜›
    kalo naik motor, pastikan bahwa lampu menyala, itu indikator pertama bebas dari stop an polisi. yohohoho

  2. batikmania
    29 Januari 2014

    Cek cek maricek di sini, mbak, pengalaman batal ditilang beberapa tahun silam. Cerita ini juga masuk dalam buku antologi ‘Curhat Jalan Raya’. http://batikmania.blogspot.com/2007/01/batal-ditilang.html
    psst, ternyata ada yang mengaku Briptu Rosi ikut berkomentar di blog posting saya itu. Hihi…

  3. Indah Juli
    29 Januari 2014

    Menyedihkan ya 😦
    Tapi benar, lebih baik ikuti proses tilang secara resmi, setidaknya itu sesuai aturan dan polisi tidak seenaknya “buat proses tak jelas”

  4. nisamama
    29 Januari 2014

    Masukan yang nomer 2 oke tuh mbak. Mending begitu ya, mekanisme tilang dipermudah, polisi jg dapet insentif, jadi sehat ya. πŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Januari 2014 by in Episode, Lain-lain.

Mesin Waktu

%d blogger menyukai ini: