shio to peppaa

Do not count your blessings; substract them.

Craft Corner: Display Kid’s Artwork


Bismillah,

CraftCornerLemariSebenernya sudah pernah dibahas sedikit tentang pojok craft ini di postingan sebelumnya; Toilet Paper Roll Project. Setelah percobaan dua minggu ini, alhamdulillah ternyata benar-benar berhasil mengurangi tingkat keberantakan rumah dengan cukup signifikan.

Seiring waktu, ide untuk mengisi craft corner pun bertambah. Baru terfikir kalau ternyata hasil karya anak-anak susah menyimpannya. Biasanya sih ditumpuk aja, nanti kalau sudah penuh ya dibuang 😀 Kalau lagi sempat, dipilih beberapa yang jadi favorit kemudian disimpan di dalam map.

Dengan semangat mengapresiasi anak (ehm), terfikir untuk memajang hasil karya mereka. Hanya saja, kok banyak ya? 😀 Seperti biasa, thanks to internet, menemukan beberapa ide menarik untuk memajang hasil karya krucils yang menumpuk.

CraftCornerJepitYang pertama adalah pajangan sekaligus storage untuk hasil karya 2 dimensi, seperti hasil menggambar, melukis, menulis cerita, dan sejenisnya. Bermodalkan alas tulis berklip (tidak tahu namanya euy, silakan liat gambar aja yak) dan jangan lupa harus ada lubang untuk tempat menggantung, hasil coretan anak-anak dijepit disana untuk kemudian digantung. Alas tulis ini saya beli di Carrefour Cimahi seharga 30 puluh ribu berapaaa gitu ya lupa lagi. Banyak yagn lebih murah sih, tapi biasanya tidak ada lubang untuk menggantungnya. Sementara baru beli 2 dulu, satu untuk Kakak Awal, satu lagi untuk Mas Kiku, sepertinya akan bertambah seiring waktu. Oh ya, kalau sedang sempat, gambarnya dirotasi supaya semuanya sempat terpajang. Sampai hari ini sih kelihatannya anak-anak cukup senang dan suka berlama-lama memandang hasil karyanya sendiri hehehehe.

CraftCornerJemuranSelanjutnya adalah pajangan sekaligus storage juga untuk hasil karya 3 dimensi, seperti origami. Kalau ini sebenernya pengennya sih beli DIGNITET Curtain Wire-nya IKEA, elegan gitu jadinya :p, tapi kok jauh ya? Dan konon kabarnya, kalau weekend, IKEA di Alam Sutera udah kayak pasar saking penuhnya dan pengunjungnya juga tidak tertib mengikuti arah panah yang ada di lantai IKEA. Kantinnya pun katanya kotor kalau banyak orang. CraftCornerBoxAh, demi menjaga imej di kepala kalau IKEA itu tempat yang bagus dan nyaman untuk berbelanja dan cuci mata (yang kedua lebih sering
kayaknya), jadi jangan kesana dulu deh (tunggu pada bosen dulu kali ya?). Eh tapi ini hanya gosip yang kebenarannya tidak bisa dipertanggungjawabkan karena belum membuktikan sendiri ya. Sebenarnya yang paling utama sih masalah jarak ya, males macet.

Yak balik lagi ke topik utama, akhirnya dengan modal tali seketemunya, diikatkan ke mana pun yang sekiranya memungkinkan, lalu jadi deh jemuran untuk memajang dan menyimpan karya 3D anak-anak. Kalau sempat sih sebenarnya seharusnya tali itu dikaitkan ke dua buah hook supaya terlihat rapi. Tapi lagi-lagi, berhubung hook-nya harus beli dulu dan saya malas keluar, hehe, jadi ya seadanya dulu yang penting kelakon.
Origami yang tidak terpajang, disimpan di dalam box dan idealnya dirotasi tiap beberapa interval waktu.

CraftCornerCardYang terakhir sebenarnya sama saja pakai model jemuran seperti di atas. Tapi saya tulis lagi untuk ide solusi bagaimana menyiasati tumpukan origami supaya tidak menggunung dan terpaksa harus dibuang nantinya. Biasanya sih Kakak Awal suka bagi-bagi ke teman-temannya, malah pernah dijual segala. Walaupun ya pada beli lebih karena Kakak Awal statusnya adalah cucu, keponakan, anak, hahaha. Kali ini origami-origami, terutama yang datar, dimanfaatkan sebagai salah satu material untuk membuat kartu. Momennya sekarang pas juga nih, pas bundanya lagi demen tea bag folding, pas sebentar lagi bakal Idul Fitri, jadi banyak bahan dan banyak orang yang bisa dikirimi kartu lebaran.

CraftCornerCraft corner yang ada di rumah ini jangan dibayangkan ruangannya besar yak. Diisi anak dua saja langsung penuh saking mininya 😀 Letaknya ada di antara lantai bawah dan atas (mezzanine kayaknya yak istilahnya). Posisinya pas dekat jendela (permanen tidak bisa dibuka tutup), jadi cahayanya banyak. Cahaya banyak ini penting sekali mengingat anak-anak bakal memakai mata maksimal ketika membuat prakarya. Anak-anak saya mah soalnya disediain lampu juga lupa terus nyalainnya 😦

Yak, demikian sekilas info, semoga bisa menginspirasi.

Wallahu a’lam bissawab; dan Allah lebih mengetahui yang sebenar-benarnya.

Iklan

About sellymeliana

Ibu rumah tangga dengan satu suami, 2 anak laki-laki, dan 1 bayi perempuan ;)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 13 Juli 2015 by in Handmade, Yuk, berbagi! and tagged .

Mesin Waktu

%d blogger menyukai ini: